Di malam yang sunyi ini, aku mengingat suatu hal tentang kita di siang tadi. Tepat pada tanggal 7 maret di tahun 2015 ini, aku dan kamu merayakan hari jadi hubungan kita yang bisa dibilang baru seumur jagung. Namun, saat malam ini aku bukannya mengingat momen-momen indah itu, malah yang aku ingat hanyalah suatu kata perpisahan darimu.
Suatu kata dimana kamu bilang, "Dee, mungkin ini aniv terakhir yang kita rayakan bersama. Sebab, bulan depan abang sudah harus berangkat ke UGM untuk melanjutkan pendidikan," yaa, itulah kata-katamu yang selalu aku ingat. Aku tau, kuliah di UGM adalah cita-citamu dari dulu. Dari sebelum kamu mengenal gadis lugu ini. Tapi, bisakah kau berdiam lebih lama disini, bersama gadis lugu yang kau panggil adek ini.
Tuhan, mengapa kau beri cobaan pada hubungan kami. Padahal, umurnya baru seumur jagung. Aku sudah cukup letih berpisah dengannya dan hanya bisa bertemu seminggu sekali. Yaa, sebab dia di asrama. Dan kini, kau tambah lagi kesabaran kami dengan cara memisahkan kita lewat bentangan pulau. Tuhan, rasanya aku tak ingin berpisah dengan dia.
Doa itu seakan terjawab 5 menit kemudian ketika handphone-ku berdering menerima telpon darimu.
"Dek, sebulan lagi abang akan pergi. Kalau boleh iujur, di saat abang nanti pergi. Abang ingin adek tetap menjadi milik abang. Karena, rasa sayang abang begitu besar ke adek. Abang pergi gak selamanya, toh ini juga demi masa depan kita. Nanti setelah abang lulus, abang akan cari kerja di Samarinda. Terus abang akan ngelamar adek," itulah penjelasan panjangmu. Tak kuasa air mataku menetes, mungkin disuara hanphone-mu hanya terdengar rintihan air mata dariku.
Selepas itu, kau melanjutkan penjelasanmu lagi "sekarang, terserah adek. Mau tetap melanjutkan hubungan ini sama abang. Atau berhenti sampai disini. Abang nggak maksa adek, karena abang tau ini berat. Abang harap adek bisa menimbang keputusan ini dengan benar," situasi ini cukup membuatku bingung, sebab gadis lugu sepertiku tak pernah berada di situasi yang serumit ini.
Kubiarkan kata hatiku bicara, namun mengapa ketika logika ikut campur, ia tak sejalan. Aku seperti berada di persmpangan jalan yang entah akan kemana akan melangkah. Aku coba memejamkan mata dan mengatur napas dalam dalam, membiarkan logika dan hati bergejolak. Sekitar 30 menit, aku membiarkan tubuhku seperti itu dan selepas itu mulai bicara lagi dengan keputusanku.
"Kalo memang abang sayang sama adek, adek siap ditinggal abang selama waktu yang pernah abang janjikan. Tapi, abang juga harus janji menjaga kesetiaan dan kepercayaan yang adek berikan. Karna, kita belum tau apa yang akan terjadi di kemudian hari. Mungkin saja abang atau aku akan tergoda dengan seseorang yang kita temui dan mengisi hari-hari kita. Tapi, dengan adanya kesetiaan di antara kita. Aku harap kita tak akan tergoda dengan hal itu," kalimat demi kalimat yang kuucapkan seakan spontan keluar dari bibir mungilku ini, keluguanku seakan berubah menjadi kedewasaan yang matang.
Sebulan kemudian, sehari sebelum berangkat ke kota pelajar itu. Kamu memberiku kesempatan untuk bersama seharian penuh. Aku seperti layaknya anak kecil yang diselimuti abangnya supaya jangan menangis ketika akan ditinggal pergi. Tapi, aku cukup bahagia dan cukup senang dengan kasih tulusmu itu.
Esoknya, hari itu pun tiba. Di perjalanan menuju bandara Sepinggan, aku terus memegang erat tanganmu dan sesekali mengusap air mata yang perlahan menetes. Sesampainya di sana, kita memanfaatkan waktu yang hanya 30 menit untuk berbincang hanva seolah tidak terjadi sesuatu apapun. Namun, saat suara pramugari terdengar jelas ia mengingatkanku kalau engkau akan pergi. Tapi yasudahlah, aku juga tak bisa menahanmu. Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu disana.
"Untukmu, jagoan hebatku. Selamat jalan, tetaplah jadi yang nomor satu di hati ini. Jangan nakal, jangan lupa sholat, jangan lupa makan dan jangan lupakan gadis lugu yang rela menunggumu ini. Berusahalah jadi yang terbaik, cepat selesaikan kuliahmu. Jagoanku, yang kelak akan menjadi imam hidupku,".
cabe kiriman dari : widi nurjannah
Website Humor Indonesia


0 comments:
Post a Comment
GAK PERLU DIKOMEN